Sejarah Benteng Keraton

SEJARAH BENTENG KERATON (PULAU BUTON KOTA BAU-BAU)

LATAR BELAKANG

Sejarah merupakan peran terbesar dalam peradaban manusia. Oleh  karenanya, kadang sejarah memihak kepada penguasa. Dengan berbagai macam dalih kepentingan pembangunan peradaban manusia, penguasa membuat sejarah yang menguntungkan rezimnya. Fakta-fakta sejarah ditafsirkan sesuai dengan keinginan penguasa.[1] Akibatnya muncullah ungkapan “sejarah memihak”, tentunya memihak kepada yang berkuasa. Ungkapan ini mengandung pengertian sejarah dalam arti peristiwa. Penguasa memiliki kepentingan untuk mendesain sebuah peristiwa agar kekuasaannya langgeng dan dapat diterima oleh masyarakat, meskipun harus memutar balikkan sejarah. Pengertian diatas juga dapat merujuk pada sejarah dalam kehidupan manusia sehari-hari yang tentuya serat dengan berbagai kepentingan. 

Pengertian sejarah dalam artian sebuah kajian ilmu pengetahuan lebih luas dan mendalam dari sekedar peristiwa. Kata sejarah memiliki padanan dengan kata history dalam bahasa Inggris. Kata history berasal dari bahasa Yunani historia yang berarti: inquiry (penyelidikan), interviw (wawancara), interogasi dari seorang saksi mata, dan juga laporan mengenai hasil-hasil tindakan dari seorang saksi, hakim, dan orang yang tahu. Dengan demikian, teks-teks Yunani kuno istilah historia mempunyai tiga arti: pertama, penelitian (research) dan laporan tentang penelitian itu. kedua, suatu cerita puitis. Dan ketiga, suatu deskripsi yang persis tentang fakta-fakta. Selain istilah historia ditemukan juga kata Yunani historeo, yang ditafsirkan sebagai mencari (to search), meneliti atau menanya (to inquire), dan memeriksa (to examine). Dalam proses selanjutnya, terjadi perkembangan kata yang memiliki makna serupa dengan historia, yaitu history, historie, histoire, storia, dan istoria.[2]

Sejarah juga dapat diartikan bahwa semua aspek kehidupan manusia pada masa lalu, seperti politik, sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, hukum, seni, budaya, peradaban, pemikiran, dan lain sebagainya. Dengan demkian, semua hal yang berkaitan dengan manusia dan masa lalu merupakan kajian dari sejarah.[3]

Sementara itu, Kuntowijoyo menyebutkan pengertian sejarah adalah menafsirkan, memahami, mengerti.[4]

Dari berbagai pengertian dari sejarah yang dipaparkan oleh para ahli di atas dapat di simpulkan bahwa, sejarah memiliki kaitan dengan ilmu-ilmu lainnya, terutama ilmu-ilmu yang mengkaji manusia, seperti politik, hukum, ekonomi, dan lainnya. Ilmu-ilmu tersebut dapat digunakan sebagai alat bantu untuk memperdalam fakta-fakta sejarah, dan juga sejarah hal yang terjadi pada masa lampau dan dapat di ambil manfaat dan pelajaran di dalamnya.

Begitupula banyak sejarah yang terbentang di Negara Indonesia dari sejarah Istana kerajaan Majapahit, Pesantren yang ada dipulau Jawa yang dikenal sebagai salah satu pesantren yang bersejarah bagi Indonesia, karena para santri maupun kiyai ikut serta memperjuangkan indonesia ini, juga sejarah Makam, Sejarah Masjid, Sejarah Kubah, Sejarah Benteng Keraton, Sejarah Budaya dan lain sebagainya.

Sulawesi merupakan salah satu pulau yang berada di Indonesia yang memiliki banyak sumber daya alam dan tempat wisata yang mengagumkan. Tak bisa dipungkiri kini Pulau Sulawesi menjadi salahsatu tempat yang patut dikunjungi bagi para wisatawan turis lokal manca negara. Sebagaimana yang terletak di Sulawesi Tenggara yang berada di Pulau Buton Kota Baubau, di sana terdapat Benteng Keraton Buton.

Benteng Keraton yang berlokasi di Kota Baubau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Menurut Para Ahli, benteng ini didirikan pada masa kepemimpinan Sultan Buton II bernama La Sangaji di Abad ke 16. Sebelum dikenal Seperti sekarang, benteng ini dahulunya salah satu pembatas antara perkampungan masyarakat dan kompleks Istana, sedangakan fungsi utama dari benteng ini sebagai benteng pertahanan apabila ada serangan dari musuh secara mendadak. Kemudian benteng ini pun diubah secara permanen pada masa Pemerintahan Sultan Buton IV yang bernama La Elagi, atau dikenal sebagai Sultan Dayanu Ikhsanuddin.[5]  Kini Benteng Keraton tersebut di jadikan sebagai tempat wisata bersejarah dan terus melestarikannya hingga saat ini.

A.    Awal Mula Sejarah Benteng Keraton Buton

Benteng keraton buton yang berada di Wolio berasal dari kata Welia yang berarti martabat, karena konon kabarnya sebelum pembangunan benteng lebih dahulu dilakukan pembabatan/pembersihan pohon-pohon.[6] Benteng ini menyimpan makna sejarah, “kata Djafar” di Istananya dijalan Dr. Wahidin. Kelurahan Wameo, Kecamatan Murhum, Kota Baubau. Benteng itu mulai dibangun oleh Sultan Buton III La Sangaji atau Sultan Kaimuddin (memegang takhta pada 1591-1597), tapi hanya berupa tumpukkan batu yang mengelilingi pusat kesultanan.[7] Pada masa Sultan Buton VI, La Buke atau Sultan Gafarul Wadudu (1632-1645), pembangunan benteng ini terjadi secara besar-besaran. Pada 1634, ia memerintahkan ribuan prajurit dan semua warganya membangun benteng besar dengan menghubung-hubungkan semua baluara menjadi satu rangkaian utuh. Arsitek bangunan benteng ini adalah Sapati Maa Waponda. Ia mendesain bangunan benteng dengan dasar huruf “dal”. Ternyata ketika menyusun balura itu, ia menemukan ada salah satu sudut yang tidak bisa dipertemukan karena berada ditebing yang sangat curam.[8]

Yang terdapat di benteng keraton bukan hanya bentengnya yang meluas dan arsitekturnya yang menggunggah pikiran. Namun ada juga badili (meriam), lawa, balura, masjid agung Buton, makam Sultan dan masih banyak lagi.

B.     Sejarah Benteng Keraton Buton, Kota Baubau Hingga Terbentuknya

Benteng keraton dibangun pada abad ke-16 oleh sultan Buton yang ke III “La Sangaji” yang bergelar Sultan Kaimuddin (1591-1596) ini memiliki 3 Komponen. Pertama, Badili atau meriam. Kedua, Lawa artinya dalam bahasa Wolio adalah pintu gerbang, yang ketiga Baluara berasal dari bahasa Portugis artinya Bastion. Baluara ini dibangun sebelum benteng keraton didirikan pada tahun 1613 pada masa pemerintahan La Elangi/Dayanu Ikhsanuddin (Sultan ke-4) bersamaan dengan ‘godo’ (gudang).[9] Dari 16 baluara dua diantaranya memiliki godo yang terletak diatas baluara tersebut. Masing-masing berfingsi sebagai tempat penyimpanan peluru dan mesiu, dan setiap baluara memiliki bentuk yang berbeda-beda sesuai kondisi lahan dan tempatnya. Juga ke16 baluara memiliki nama yang berbeda-beda, sesuai nama kampung di dalam benteng keraton pada masa kesultanan buton, yaitu: Baluarana Gama, Baluarana Litao, Baluarana, Bangkatopa, Baluarana Wandailolo, Baluarana Baluwu, Baluarana Dete, Baluarana Kalau, Baluarana Godona, Baluarana Oba, Baluarana Wajo/Bariya, Baluarana Tanailandu, Baluarana Melai/Baau, Baluarana Godana Batu, BaluaranaLantongau, Baluarana Gundu-gundu, Baluarana Siompu, dan Baluarana Rakia.

 Benteng Keraton memiliki panjang sekitar 2740 meter dan mencapai 2 meter hingga 8 meter dengan ketebalan didingnya, batu yang digunakan bukan batu biasa, namun menggunakan batu kapur yang terdiri dari 3 komponen lainnya.[10] Wilayah Kesultanan Buton cukup luas. Kini di bekas wilayah kesultanan telah berdiri beberapa kabupaten dan kota bagian dari Provinsi Sulawesi Tenggara, yaitu Kabupaten Buton, Kabupaten Muna, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana, Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Muna Barat, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Buton Selatan, dan Kota Baubau.

Benteng Keraton Buton merupakan obyek wisata unggulan Kota Baubau dan telah dikunjungi ribuan turis domestik dan mancanegara setiap tahunnya. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Baubau Ali Arham, Benteng Keraton Buton setiap harinya dikunjungi sekitar 300-400 turis nusantara pada 2019. Sedangkan total kunjungan turis asing ke Benteng Keraton Buton selama 2019 sekitar 6.000 orang dan umumnya datang dari daratan Eropa.[11]

Sejak pandemi Covid-19 merebak sekitar delapan bulan lalu, jumlah kunjungan turis berkurang dari sebelumnya. Meski demikian, Benteng Keraton Buton tetap dapat dikunjungi asalkan mematuhi protokol kesehatan dan ikuti pesan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak. Mari, berkunjung ke benteng terluas di dunia.

Benteng Keraton Buton mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guiness Book Record yang dikeluarkan bulan september 2006 sebagai benteng terluas di dunia. Selain itu, Benteng Keraton Buton memiliki bentuk unik yang terbuat dari batu kapur. Dulunya benteng ini dijadikan tempat pertahanan, namun kini menjadi objek wisata yang menampilkan sejarah Kesultanan Buton dengan pemandangan Kota Bau-Bau yang menakjubkan.[12]

C.    Gambar/Dokumentasi dan Tempat Bersejarah di Dalam Benteng Keraton Buton Kota Baubau

Berikut beberapa tempat, alat, benda,  bersejarah yang berada di dalam benteng keraton:

1.      Meriam Karaton Buton Kota Baubau

              

Objek wisata ini merupakan meriam yang terbuat dari besi tua yang berukuran 2 sampai 3 depa, meriam ini bekas persenjataan kesultanan Buton Peninggalan Portugis dan Belanda yang dapat ditemui hampir pada seluruh benteng di Kota Baubau.[13]

Meriam ini tersusun rapi sisetiap sudut dan di dalam benteng yang luasnya berukuran 400 ribu meter persegi atau 2740 meter persegi. Meriam ini merupakan sejata berbentuk tabung yang memiliki laras panjang dengan diameter yang bervafiasi. Berdasarkan panjang laras dan ukuran diameter meriam, akan diketahui ukuran maupun jenis kaliber meriam. Semakin besar kalibernya, maka semakin besar ruang untuk mesiu. Hal ini kemudian menjadikan potensi jarak tembak sebuah meriam.[14]

Berdasarkan data Arkeolog Unhas, “Fahri” jumlah meriam di kawasan benteng keraton total 41 buah, Lima diantaranya berada dihalaman Masjid Agung keraton, 1 buah halaman rumah penduduk, serta 35 buah berada di Bakuaranan dan Lawana benteng.[15]

Setiap meriam memiliki ukuran, inskripsi, arah hadap, ukuran kaliber,  bahan dan tipe meriam berbeda. Semua itu karena memiliki bagian dasar, pangkal, lubang, tembak, panjang laras, cincin dan moncong meriam berbeda, meriam paling panjang berukuran 320 cm, sedangkan paling pendek berukuran166 cm. Ukuran meriam yang ada, lebih dominan yang berukuran besar atau sebanyak 21 buah. Kemudian meriam yang berukuran sedang sebanyak 14 buah. Ada pula meriam benteng ukuran sedang baik diameter maupun panjangnya. Biasanya, meriam benteng ini tak berpindah tempat mengingat besar dan berat meriam tersebut. Khusus arah hadap yang berbeda ini sebagai berfungsi penunjang pertahanan pada setiap sisi. Sebaran meriam hampir seimbang antara yang menghadap laut, dengan meriam yang menghadap ke perbukitan. Namun konsentrasi sebaran meriam tersebut lebih banyak diletakan pada sisi utara atau menghadap ke laut. Jumlah yang diletakan disitu 20 buah. Sedang meriam yang mengarah ke sisi timur atau perbukitan hanya 15 buah. Hal ini diketahui karena pada sisi Utara terdapat Teluk Baubau yang merupakan pelabuhan transit kapal dagang yang berlayar dari timur ke barat Nusantara. Dari jumlah meriam yang ada, kaliber paling besar berukuran 33,7 inci. Ukuran ini terdapat pada 19 meriam yang ada. Sedang yang paling sedang berukuran 6,7 inci terdapat di 14 buah meriam. Semua bahan baku ini berbahan baku baja, perunggu dan kuningan. Masing-masing meriam terdapat huruf pada bagian dudukan. Huruf ini berfungsi kode sebagai atau tanda pembuatan. Huruf tersebut, di antaranya F, G, H. Selain huruf, terdapat pula lambang VOC atau Verenigede Oustindische Compagnie yang merupakan serikat dagang dari Belanda, serta angka pada masing-masing meriam. Meriam yang memiliki huruf F huruf 11 buah. Sedang meriam yang memiliki lambang VOC sebanyak delapan buah. Dari jumlah tersebut, dua lambang VOC memiliki huruf A dan enam berlambang VOC tidak memiliki huruf. Lambang VOC yang memiliki kode huruf A menandakan sebuah nama Kota, Amsterdam yang merupakan tempat meriam diproduksi.[16]

2.      Masjid Agung Keraton Boton

Masjid Agung Keraton Buton ini berusia lebih dari 300 tahun. Masjid ini dibangun pada tahun 1712 oleh Sultan Sakiuddin Durul Alam atau La Ngkariri Sultan Buton yang ke sembilan belas (XIX), yang di prakarsai oleh Syekh Syarif Muhammad atau saidinaraba dalam bahasa buton, dan merupakan lambang kejayaan Islam pada masa itu. Masjid Agung Keraton Buton berada ditengah-tengah kawasan Keraton, dan menjadi zona inti di dalam kawasan Benteng Keraton, dengan halaman yang luas, dengan tiang bendera kesultanan masih berdiri utuh di sampingnnya. Secara fisik kondisi masjid masih terawat, sejak kesultanan hingga saat ini.[17] Awal mula pembangunan Masjid Agung Keraton Buton telah mengalami perubahan sebanyak 5 kali. Diantaranya: Perubahan pertama pada tahun 1878 masehi, yaitu mengganti bagian atapnya dengan seng yang semula hanya menggunakan atap daun nipah. Perubahan kedua pada tahun 1930, yaitu mengganti sebagian rangka kayu yang sudah mulai lapuk dan mengganti lantainya dengan semen. Perubahan ketiga dan keempat pada tahun 1978 dan 1986, yakni mengganti atap seng yang sudah mulai using/rusak. Perubahan kelima pada tahun 2002, yaitu mengganti lantai masjid dengan marmer, atas bantuan Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri.[18]

Para ahli, meyakini masjid Keraton Buton ini adalah masjid tertua di Sulawesi Tenggara. Sejatinya ada masjid lain yang lebih tua dibangun pada masa Sultan pertama Buton, Kaimuddin Khalifatul Khamis (1427-1473).[19] Hanya masjid itu terbakar dalam perang saudara di Kesultanan Buton. Selanjutnya, Sultan Sakiuddin Darul Alam, yang memenangi perang tersebut membangun Masjid Agung Wolio untuk mengganti masjid yang terbakar.[20]

Masyarakat Buton setempat percaya Masjid Agung Keraton Buton ini dibangun di atas pusena tanah (pusatnya bumi). Pusena tanah tersebut berupa pintu gua di bawah tanah yang berada tepat di belakang mihrab. Disebut pusena tanah karena dari gua konon terdengar suara azan dari Mekkah.[21] Hingga pada saat ini, masjid Agung keraton masih dijadikan tempat peribadatan muslim shalat 5 Waktu dan shalat Jum’at.

3.      Lawa ‘na’

Lawa dalam bahasa Wolio berarti pintu gerbang. Lawa berfungsi sebagai penghubug keraton dengan kampung-kampung yang berada disekeliling benteng keraton, dan terdapat 12 lawa pada benteng keraton, angka 12 menurut keyakinan masyarakat mewakili jumlah lubang pada tubuh manusia, sehingga benteng keraton diibaratkan sebagai tubuh manusia.

Ke-12 lawa memeiliki masing-masing nama sesuai dengan gelar orang yang mengawasinya, penyebutan lawa di-imbuhi akhiran ‘na’ menjadi lawana dalam bahasa buton lawana artinya gerbang’nya’, adapun nama  ke-12 gerbang tersebut adalah lawana rakia, lawana lanto, lawanalabunta, lawana kampebuni, lawana waborabo, lawana dete, lawanakalau, lawana wajo/bariya, lawana burukene/tanailandu, lawana melai/baau, lawana lantongau, dan lawana gundu-gundu.[22] Hingga saat ini, lawana tesebut masih berdiri kokoh.

4.      Batu Popua

 Batu Popaua. Konon katanya, batu tersebut digunakan sebagai tempat pengambilan sumpah dan pelantikan dari para Raja atau Sultan Buton. Oleh karenanya, pengunjung pun banyak yang berniat untuk mengabadikan momen berliburnya bersama dengan batu tersebut.[23]

Ketika diperhatikan dengan seksama, anda bisa menemukan lubang yang bisa memuat satu kaki orang dewasa. Lubang tersebut ada bukanlah tanpa alasan, sebab saat pelantikan berlangsung Sultan diharuskan memasukkan satu kakinya ke dalam lubang tersebut lalu mengambil sumpah. Sedangkan pengambilan sumpahnya sendiri, dilakukan menggunakan al-Qur’an yang tentunya sudah berusia ratusan tahun lamanya.

Berbicara mengenai sejarah benteng keraton, sangat banyak sekali peninggalan-peninggalan para Sultan Buton dan masyarakat dahulu yang tinggal di atas benteng tersebut, dan ada juga kisah-kisah mistis yang masih belum terungkap hingga saat ini. Dan benteng keraton pada saat ini ramai yang mendirikan rumah di dalam benteng tersebut, hingga dijadikan pariwisata sehingga ramai para turis lokal yang berkunjung dibentengkeraton yang masih kental akan adat istiadatnya.

 

Berikut beberapa dokumentasi di benteng Keraton Buton Kota Baubau:

 

Gambar1: View_ Benteng Keraton

Gambar 2: Sudut Benteng Keraton

Gambar 3: Masjid Benteng Ketaron Buton Kota Baubau

Gambar 4: Tokoh adat Benteng Keraton

Gambar 5: Lawana

Gambar 6: Lawana

Gambar 7: Lawana

Gambar 8: Baluara dalam bahasa Portugis yang artinya Bastion

Gambar 9: salah satu Meriam Benteng Keraton

Gambarr 10: Jangkar Kapal

Gambar 11: Makam Sultan Keraton Butun Kota Baubau

Gambar 12: Gambar tiang di Benteng Keraton, yang berdiri sejak 1712 bersamaan dengan Masjid Agung Keraton Kota Baubau.

  KESIMPULANNYA:

Jadi dapat disimpulkan bahwa, benteng keraton Buton adalah benteng terluas didunia hingga mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guiness Book Record yang dikeluarkan bulan september 2006 sebagai benteng terluas di dunia. Penggunaan lahan di kawasan saat ini menjadi lebih beragam namun tetap didominasi oleh masyarakat Buton. Area sirkulasi yang terkait dengan aktivitas sosial dan budaya masyarakat masih tetap laksanakan dan dipertahankan hingga kini.

Kondisi bangunan bersejarah sebagian besar telah mengalami perubahan fisik namun, fungsi baru tersebut masih sesuai dengan karakter kawasan sebagai kawasan bersejarah beberapa alasan yang meliputi pembangunan baru yang tidak selaras dengan karakter lingkungan bersejarah di kawasan, kurang tegasnya pelaksanaan hukum dan peraturan pelestarian, kurangnya peran aktif masyarakat, perubahan fisik bangunan bersejarah di kawasan dan alasan sosial (pola pikir dan cara pandang masyarakat terhadap kegiatan pelestarian kawasan).


[1]Misalnya Nabi Muhammad dilahirkan di Mekkah atau STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik adalah kampus Islam negeri pertama di provinsi Kepulawan Bangka Belitung. Setiap orang, baik yang memihak dan tidak memihak akan menganggap pernyataan itu adalah fakta sejarah karena fakta sejarah karena buktinya ada untuk  mendukung pernyataan tesebut.

[2]Helius Sjamsuddin, (2007). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak, h. 10

[3]Kartika Sari, (2015). Sejarah Peradaban Islam, Jl Raya Pangkalpina Mentok Km 13 Mendo Barat Kabupaten Bangka. Cet-1, h. 2

[4]Kuntowijoyo, (2008) Penjelasan Sejarah (Historical Eplanation), Yogyakarta: Tiara Wacana, h. 2 

[8] Ibid, (tnggl,21/05/2021, pkl:13:37).

[15] Ibid,

[16] Wawancara, Deni Dojuhan, Editor: Sumarlin.  https://telisik.id/news/menelisik-meriam-tempur-di-benteng-keraton-buton,(tnggl,21/05/2021, pkl:14: 21);.

[17] Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Buku Panduan (Trail Map) Kawasan Benteng Keraton Buton Kota Bau-Bau, Bau-Bau : 2011, h. 7-8

[18] Ibid , h. 9

[19] Gelar sultan pertama pada keraton buton, Khalifatul Khamis orang buton mengartikan khalifa kelima setelah abu bakar as-sidiq, umar bin khatab, usman bin affan, ali bin abu thalib, gelar ini didapatkan setelah mendapat persetujuan dari sultan di Turki, gelar ini diberikan karena Raja yang pertama kali menerima Islam masuk dipulau Buton.

[20] Hasil wawancara dengan Al-Mujazi Mulku Zahari, pada tanggal 8 Februari 2017.

[21] Ibid,

[23]https://www.celebes.co/benteng-keraton buton#:~:text=Benteng%20keraton%20yang%20dimaksudkan%20disini,Sangaji%20di%20Abad%20ke%2016.&text=Sedangkan%20fungsi%20utamanya%2C%20tentu%20saja,ada%20serangan%20musuh%20secara%20mendadak. (tnggl,21/05/2021, pkl:14:07).





Refrerfensi:


Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Buku Panduan (Trail Map) Kawasan Benteng Keraton Buton Kota Bau-Bau, Bau-Bau : 2011.

https://id.wikipedia.org/wiki/Benteng_Keraton_Buton#:~:text=Benteng%20Keraton%20Buton%20dibangun%20pada,Kaimuddin%20(1591%2D1596).&text=Pada%20masa%20pemerintahan%20Sultan%20Buton,batu%20tersebut%20dijadikan%20bangunan%20permanen.

https://indonesia.go.id/kategori/komoditas/2129/benteng-terluas-sejagat-ada-di-buton

https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/belajar-sejarah-kesultanan-buton-di-benteng-keraton-wolio-bau-bau/

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsulsel/benteng-keraton-buton-kota-baubau/,

https://telisik.id/news/menelisik-meriam-tempur-di-benteng-keraton-buton

https://www.celebes.co/benteng-keraton-buton#:~:text=Benteng%20keraton%20yang%20dimaksudkan%20disini,Sangaji%20di%20Abad%20ke%2016.&text=Sedangkan%20fungsi%20utamanya%2C%20tentu%20saja,ada%20serangan%20musuh%20secara%20mendadak.

https://www.kompas.tv/article/72855/wow-ternyata-benteng-terluas-di-dunia-ada-di-indoenesia#:~:text=Ya%2C%20namanya%20adalah%20Benteng%20Keraton,dengan%20luas%20sekitar%2023%2C375%20hektar.

Sari, Kartika. Sejarah Peradaban Islam, Jl Raya Pangkalpina Mentok Km 13 Mendo Barat Kabupaten Bangka. Cet-1, Tahun 2015;.

Sjamsuddin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.




Nb: (Postingan ini dapat berubah apabila ditemukan kekeliruan penulis dalam menyempaikan Tulisannya). 

Komentar